Monday, 19 April 2010

Tentang DOA

     







http://www.bicarasufi.com/bsc/viewtopic.php?t=19799 

















Di antara nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta'ala adalah dimudahkannya kita berdo’a kepada Allah Ta'ala tanpa perantara. Kita juga diperintahkan berdo’a langsung kepada Allah Ta'ala tanpa perantara, Allah 'Azza wa jalla pun juga berjanji akan mengabulkan do’a kita. Semua makhluk itu Buluh kasap kepada Allah. Dan Allah 'Azza wa jalla adalah dzat yang maha kaya tidak Buluh kasap kepada makhluk-Nya. Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada kita untuk meminta dan berdo’a kepada-Nya.
Allah Ta'ala berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ(60)

Dan Rabmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Mu’min : 60)

Do’a yang dipanjatkan seorang hamba kepada Allah Ta'ala ada yang dikabulkan, ada juga yang tidak dikabulkan. Sebagaimana seorang hamba shalat, ada yang diterima shalatnya dengan sempurna dan ada yang ditulis ganjaran separuhnya. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba melakukan shalat, ada yang dapat ganjaran sepersepuluhnya, ada yang mendapat sepersembilannya, ada yang mendapat seperdelapannya, ada yang mendapat sepertujuhnya, ada yang mendapat seperenamnya, ada yang mendapat seperlimanya, ada yang mendapat seperempatnya, ada yang mendapat sepertiganya, ada yang mendapat setengahnya.” (HR. Ahmad [IV/321], Abu Dawud nno.796, at-thahawi syarh musykilil Aatsaar no. 1103 dan al-Baihaqi [II/281] dari ‘Amar bin Yasir. Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud [III/382] no. 761). Kita akan bertanya kepada diri kita mengapa shalat kita diterima sebagiannya ? Mungkin tidak khusyu’, tidak sesuai dengan contoh Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, dan lain sebagainya. Begitu juga do’a, kita bertanya kepada diri kita di saat do’a kita tidak terkabul, mengapa do’a kita tidak terkabul ? Banyak sebabnya. Maka kita perlu mengkaji tentang do’a, sesungguhnya do’a merupakan suatu ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam:

(( اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَة ))

“Do’a adalah ibadah.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan selainya).
Karena do’a merupakan ibadah, maka do’a memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi di antaranya adalah adab-adab ketika berdo’a, sebab terkabulkannya do’a, penghalang terkabulkannya do’a, dan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam berdo’a agar do’a kita dikabulkan oleh Allah Ta'ala.

ADAB DAN SEBAB TERKABULNYA DO’A

Di antara adab berdo’a dan beberapa faktor penyebab dikabulkannya do’a antara lain :

* Ikhlas kepada Allah Ta'ala semata.

Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)



* Mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Ta'ala, lalu diikuti dengan bacaan shalawat atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diakhiri dengannya.
* Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali hanya kepada Allah Ta'ala semata.
* Hendaknya ia dalam keadaan bersuci, menghadap kiblat, mengulangi do’a sebanyak tiga kali Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu : Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam bersabda: “Hendaknya ia dalam keadaan bersuci, menghadap kiblat, mengulangi do’anya sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim)
* Tidak memohon agar cepat dikabulkan (tergesa-gesa). Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu'anhu Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam bersabda: “Do’a akan dikabulkan apabila dia tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan seperti mengatakan;“aku sudah berdo’a tapi tidak juga dikabulkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
* Hendaknya ia selalu berdo’a dan tidak putus asa.
* Tunduk dan khusyu.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ(90)

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. (Qs. Al-Anbiya: 90)
Dan Allah Ta'ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(55)

Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Qs.Al-A’raf : 55)
Seorang hamba dianjurkan untuk selalu memohon dan meminta kepada Allah Ta'ala apa saja yang dibutuhkannya setiap hari untuk kepentingan dunia maupun akhirat, karena semua perbendaharaan langit dan bumi ada di sisi Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ(21)

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah perbendaharaannya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS. Al-Hijr: 21)


WAKTU, KEADAAN, DAN TEMPAT DIKABULKANNYA DO’A.

Adapun waktu, keadaan, dan tempat dikabulkannya do’a yaitu:

* Sepertiga malam terakhir pada waktu itu Allah Ta'ala turun kelangit dunia.
* Antara adzan dan iqomat.
* Setelah wudhu dan Setelah shalat fardhu.
* Setelah shalat ashar pada hari jum’at.
* Ketika berbuka puasa dan ketika sahur.
* Ditempat berkumpulnya kaum Muslimin di majlis-majlis ilmu.

Seorang mukmin akan senantiasa berdo’a kepada Rabb-nya kapan dan dimana saja berada, dan do’anya insya Allah akan dikabulkan. Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي …(186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah : 186)
Ketahuilah, bahwa waktu-waktu, keadaan dan tempat-tempat diatas perlu mendapat perhatian khusus agar do’a kita dikabulkan oleh Allah Ta'ala.
Kemudian yang harus diperhatikan, karena do’a adalah ibadah, maka pengabulan do’a adalah hak murni milik Allah Ta'ala. Sebagaimana Allah Ta'ala, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan, memberikan rizqi, menghidupkan, mematikan dan mengatur alam semesta ini. Demikian pula tidak ada sekutu bagi Allah U dalam segala macam ibadah, temasuk do’a. barang siapa berdo’a meminta sesuatu kepada sesuatu selain Allah Ta'ala maka ia telah jatuh kepada syirkun akbar (syirik yang paling besar), yang menyebabkan tidak dikabulkannya do’a. Dan kita diperintahkan untuk mengikhlaskan ibadah dan do’a semata-mata karena Allah U, tidak kepada yang lain-Nya. Firman Allah Ta'ala :

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(65)

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. Al-Mukmin: 65)


PENGHALANG TERKABULKANNYA DO’A

Sebagai orang yang beriman kepada Allah Ta'ala, kita kaum muslimin wajib percaya kepada kekuasaan Allah Ta'ala dan segala perintah dan larangan-Nya, semua ketentuan Allah Ta'ala adalah adil dan penuh dengan hikmah. Jika kita berada dalam kesulitan dan kesusahan, kita langsung bermunajat kepada Allah Ta'ala, kemudian Allah U kabulkan do’a kita. Akan tetapi terkadang do’a kita tidak dikabulkan, padahal kita sudah berdo’a siang dan malam, maka kita harus mengintropeksi diri kita, antara do’a yang dikabulkan dengan yang tidak, mana yang lebih banyak? Dan kita juga intropeksi, faktor apa yang menyebabkan do’a kita tidak terkabul? Oleh karena itu, perlu kita ketahui beberapa faktor penyebab do’a kita tidak dikabulkan. Beberapa penghalang terkabulnya do’a seseorang:

* Makan dan minum dari yang haram, mengkonsumsi barang yang haram, dan hasil usaha yang haram. Allah Ta'ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ (172)

“Hai orang-orang yang, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 172).
Dan beliau shollallahu'alaihi wa salam menceritakan seorang laki-lakis :

((….. يَارَبِّ يَارَبِّ، وَ مَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَ مَشْرَبُهُ حَرَامٌ, وَ مَلْبَسُهُ حَراَمٌ، وَ غُذِيَ بِالْحَرَامِ،فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ))

“……Wahai Rabb! Wahai Rabb! Sedangkan makanannya haram, dan minumannya haram, dan pakaiannya haram, dan perutnya dikenyangkan dengan makanan yang haram maka bagaimana permohonannya dikabulkan.” (H.R. Muslim).
b. Minta cepat terkabulkannya do’a yang akhirnya meninggalkan do’a.
Bila seorang muslim minta do’anya segera dikabulkan, kemudian hikmah dari Allah Ta'ala belum terkabul do’a tersebut, maka ia harus bersabar, jangan terputus asa dari rahmat Allah Ta'ala, teruslah berdo’a, karena bila ia isti’jal (minta cepat dikabulkan), maka ia akan terhalang dari terkabulnya do’a, karena tidak ada seorang pun yang bisa memaksa Allah Ta'ala, dan Allah berbuat menurut apa yang Dia kehendaki. Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, ia berkata, Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam bersabda:

((لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَالَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ، مَالَمْ يَسْتَعْجِلْ، قِيْلَ:يَا رَسُوْلَ الله وَمَا الاِسْتِعْجَالُ قَالَ: يَقُوْلُ: قَدْ دَعَوْتُ وَ َقْد دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيْبُ لِيْ فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ))

“Do’a seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak berdo’a untuk berbuat dosa atau memutuskan tali silaturahmi,selama ia tidak meminta dengan tergesa-gesa. Ada yang bertanya: ‘ya Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam, apa itu isti’jal (tergesa-gesa)? Beliau menjawab: ‘jika seorang berkata: aku sudah berdo’a, memohon kepada Allah, tetapi Allah Ta'ala belum mengabulkan do’aku. Lalu ia merasa putus asa dan akhirnya meninggalkan do’anya tersebut.’” (H.R. Muslim)
c. Melakukan maksiat dan apa yang diharamkan Allah Ta'ala.
Maksiat adalah salah satu penghalang terkabulnya do’a, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya, jaami’ul ‘ulumu wal hikam, hal.198. seorang penyair berkata: “bagaimana mungkin kita mengharap terkabulnya do’a, sedangkan jalan kita sudah tertutup dengan dosa dan maksiat.”
Dosa dan maksiat mempunyai pengaruh yang jelek terhadap diri manusia, termasuk juga faktor penghalang terkabulnya do’a. (lihat kitab Ad-Daa’wad dawaa’, Al-Imam Ibnu qayyim Al-Jauziyyah).
d. Meninggalkan kewajiban yang telah Allah Ta'ala wajibkan.
Sebagaimana mengerjakan keta’atan adalah faktor terkabulnya do’a, demikian juga meninggalkan kewajiban adalah penghalang terkabulnya do’a. Salah satu kewajiban seseorang hamba adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Bila kedua hal ini tidak dilaksanakan, maka do’a kita tidak terkabul. Nabi bersabda shollallahu 'alaihi wa salam :
“Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran atau (kalau kalian tidak lakukan maka pasti) Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdo’a kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.” (Hadits hasan diriwayatkan At-Tirmidzi no. 2169 dan lain-lain)
e. Lalai dan dikuasai hawa nafsu. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Berdo’alah kalian kepada Allah Ta'ala dengan yakin akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah Ta'ala tidak mengabulkan do’a dari orang yang lalai dan lengah.” (Hadits hasan diriwayatkan At-Tirmidzi no. 3479, Al-Hakim I/493)
Jika seorang muslim berdo’a dan sudah berusaha memenuhi syarat-syaratnya, serta berusaha menjauhkan penghalang-penghalang terkabulnya do’a, akan tetapi masih juga belum dikabulkan, maka ia harus sabar dan ridha, yakinlah Allah Ta'ala mempunyai hikmah yang sangat tinggi, Allah Ta'ala sangat sayang kepada hamba-Nya dan seorang hamba tidak mengetahui akibat urusan-urusannya. Terkadang seseorang mengharapkan sesuatu, padahal itu jelek untuknya dan dia menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik untuknya. Dia harus ingat bahwa do’a itu adalah seutama-utama ibadah, dan ibadah akan diberi ganjaran dan pahala apabila terpenuhi syarat-syaratnya, sebagaimana ia shalat, puasa, dan juga do’a.


SISI LAIN YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERDO’A

* Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk banyak berdzikir dan bersyukur kepada-Nya, karena Allah Ta'ala sajalah yang memberikan seluruh nikmat kepada makhluk-Nya. Firman Allah Ta'ala :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ(152)

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. (QS. Al-Baqarah: 152)

* Allah U berjanji akan memberikan ganjaran kepada orang yang banyak berdo’a dan berdzikir kepada-Nya. Do’a dan dzikir termasuk ibadah yang paling utama. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam: “ Tidak ada sesuatupun yang paling mulia bagi Allah Ta'ala melainkan do’a.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani)
* Kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam agar kita dicintai Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(31)

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-‘Imran: 31)
Agama Islam ini sudah sempurna, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu...” (QS. Al-Maidah: 3)
Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shollallahu 'alaihi wa salam telah menjelaskan semua syariat ini, baik perkara kecil maupun yang besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam masalah do’a dan dzikir.

* Tidak boleh seorang pun dari kaum muslimin (apakah ia seorang ustadz, kyiai, habib, atau tuan guru dan yang lainnya), membuat do’a atau dzikir-dzikir tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Ta'ala, kemudian mereka mengajarkannya kepada kaum muslimin dan menjadikannya sebagai wirid yang rutin diamalkan setiap waktu dan meninggalkan do’a atau dzikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam. Perbuatan ini adalah membuat syari’at yang tidak diizinkan Allah Ta'ala.

Rasulullah r bersabda:“Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan agama kami yang bukan berasal darinya, maka (perbuatan itu) tertolak.” (HR. Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dari ‘Aisyah)
Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam bersabda:“Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” (HR. An-Nasai III/189 dari Jabir dengan sanad yang shahih)
Setiap orang yang mengadakan sesuatu yang baru dalam ibadah, seperti do’a dan dzikir tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam, maka ia telah berdosa dari empat segi:

* Meninggalkan do’a dan dzikir yang disyari’atkan.
* Menambah-nambah atas syari’at Islam.
* Menyunnahkan sesuatu yang tidak disyari’atkan.
* Mengelabui orang awam yang mereka menganggap bahwa hal itu boleh.


Dengan demikian kita dianjurkan memperbanyak do’a, dan insya Allah do’a kita akan dikabulkan. Jangan sekali-kali kita putus asa dari rahmat Allah Ta'ala. Dan kita harus berhati-hati, jangan sampai kita jatuh dalam perbuatan bid’ah dan syirik yang dengan itu kita berbuat dosa besar dan do’a kita tidak dikabulkan. Karena itu, agar do’a kita terkabul, kita harus menjaga syaria’at yang telah diwajibkan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shollallahu 'alaihi wa salam dan menjauhkan diri dari setiap perkara yang dilarang serta memperbanyak mengamalkan sunah-sunah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa salam berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Wallahu A’lam bi showab.

Thursday, 15 April 2010

Kisah Nabi Khidir A.S.

http://salafytobat.wordpress.com/2008/11/01/kisah-nabi-khidir-dalam-kitab-ibnu-hajar-asqalaniy/

Kisah Nabi Khidir Dalam Kitab Ibnu Hajar Asqalaniy

Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW..iriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsir: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Abdul Aziz Al-Ausiy, dari Ali bin Abu Ali, dari Jakfar bin Muhammad bin Ali bin Husain, dari ayahnya, katanya Ali bin Abi Talib berkata: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah ucapan takziah. Datang kepada mereka (keluarga Nabi SAW) orang yang memberi takziah. Mereka mendengar orang memberi takziah tetapi tidak melihat orangnya. Bunyi suara itu begini:
‘Assalamu Alaikum Ahlal Bait Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah bagi setiap musibah, bagi Allah ada pengganti setiap ada yang binasa, begitu juga menemukan bagi setiap yang hilang. Kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.”

Berkata Jakfar: “Bercerita kepadaku ayahku bahawa Ali bin Abi Talib ada berkata: “Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah suara Nabi Khidir.” Berkata Muhammad bin Jakfar: “Adalah ayahku, iaitu Jakfar bin Muhammad, menyebutkan tentang riwayat dari ayahnya, dari datuknya, dari Ali bin Abi Talib bahawa datang ke rumahnya satu rombongan kaum Quraisy kemudian dia berkata kepada mereka: “Mahukah kamu aku ceritakan kepada kamu tentang Abul Qasim (Muhammad SAW)?”

Kaum Quraisy itu menjawab: “Tentu sahaja mahu.”

Ali bin Abi Talib berkata: “Jibril Alaihis salam pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahmad. Inilah akhir watanku (negeriku) di bumi. Sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia.” Maka tatkala Rasulullah SAW wafat, datanglah orang yang memberi takziah, mereka mendengarnya tetapi tidak melihat orangnya. Orang yang memberi takziah itu berkata: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai ahli bait. Sesungguhnya pada agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan bagi Allah ada yang menggantikan setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Mendengar yang demikian Ali bin Abi Talib berkata: “Tahukah kamu siapa yang datang itu? Itu adalah Khidir.”

Berkata Saif bin Amr At-Tamimi dalam kitabnya Ar-Riddah, yang diterimanya dari Sa’id bin Abdullah, dari Ibnu Umar mengatakan: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah Abu Bakar ke rumah Rasulullah. Ketika beliau melihat jenazah Rasulullah SAW, beliau berkata: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.” Kemudian beliau bersama sahabat-sahabat yang lain menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW. Pada waktu mereka menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW, mereka mendengar suara ajaib. Selesai solat dan mereka pun semuanya sudah diam, mereka mendengar suara orang di pintu mengatakan: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahli Bait. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya pada agama Allah ada pengganti setiap ada yang binasa dan ada kelepasan dari segala yang menakutkan. Kepada Allah-lah kamu mengharap dan dengan-Nya berpegang. Orang yang diberi musibah akan diberi ganjaran. Dengarlah itu dan hentikan kamu menangis itu.”
Mereka melihat ke arah suara itu tetapi tidak melihat orangnya. Kerana sedihnya mereka menangis lagi.

Tiba-tiba terdengar lagi suara yang lain mengatakan: “Wahai Ahli Bait, ingatlah kepada Allah dan pujilah Dia dalam segala hal, maka jadilah kamu golongan orang mukhlisin. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan ada pengganti setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya taat. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah orang yang diberi pahala.” Mendengar yang demikian itu berkata Abu Bakar: “Ini adalah Khidir dan Ilyas. Mereka datang atas kematian Rasulullah SAW.”

Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.”

Kemudian lelaki itu pun menghilang daripada pandangan para sahabat. Abu Bakar berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW.”

Dari tadi sudah banyak kita lihat ucapan-ucapan takziah yang hampir sama kata-katanya. Ada yang mengatakan hadis ini daif. Ubad yang meriwayatkan hadis ini tidak diiktiraf oleh Imam Bukhari.
Berkata Ibnu Syahin dalam kitabnya Al-Jana’iz: “Bercerita kepada kami Ibnu Abu Daud, dari Ahmad bin Amr, dari Ibnu Wahab, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Mukandar, berkata: “Pernah pada suatu hari Umar bin Khattab menyembahyangkan jenazah, tiba-tiba beliau mendengar suara di belakangnya: “Ala, janganlah duluan dari kami mengerjakan solat jenazah ini. Tunggulah sudah sempurna dan cukup orang di belakang baru memulakan takbir.” Kemudian lelaki itu berkata lagi: “Kalau engkau seksa dia ya Allah, maka sesungguhnya dia telah derhaka kepada-Mu. Tetapi kalau Engkau mahu mengampuni dia, maka dia betul-betul mengharap keampunan daripada-Mu.” Umar bersama sahabat-sahabat yang lain sempat juga melihat lelaki itu. Tatkala mayat itu sudah dikuburkan, lelaki itu masih meratakan tanah itu sambil berkata: “Beruntunglah engkau wahai orang yang dikuburkan di sini.”

Umar bin Khattab berkata: “Tolong bawa ke sini lelaki yang bercakap itu supaya kita tanya tentang solatnya dan maksud kata-katanya itu.” Tiba-tiba lelaki itu pun sudah menghilang dari pandangan mereka. Mereka mencari ke arah suaranya tadi tiba-tiba mereka melihat bekas telapak kakinya yang cukup besar. Umar bin Khattab berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir yang pernah diceritakan oleh Nabi kita Muhammad SAW.”

Ada juga yang mengatakan hadis ini tidak sahih. Kata Ibnu al-Jauzi hadis ini majhul (tidak dikenal) dan dalam sanadnya ada yang terputus di antara Ibnul Mukandar dengan Umar.

Khidir datang menegur peniaga
Berkata Ibnu Abu Dunia: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Ali bin Syaqiq, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Umar bin Muhammad bin Al-Mukandar, berkata: “Ada seorang peniaga yang banyak memuji-muji barangnya dan banyak bersumpah untuk meyakinkan orang lain (pembeli). Tiba-tiba datang kepadanya seorang tua dan berkata: “Wahai peniaga, juallah barangmu tetapi jangan banyak bersumpah.” Peniaga itu masih banyak bercakap dan bersumpah, yang menyebabkan orang tua itu berkata lagi: “Wahai pedagang, berniagalah secara jujur dan jangan banyak bersumpah.” Bahkan orang tua itu berkata lagi:
“Berniagalah secara yang patut sahaja.” Peniaga itu berkata: “Inilah yang patut saya lakukan.” Kemudian orang tua itu berkata: “Utamakanlah kejujuran walaupun berat melakukannya dan tinggalkan berbohong walaupun ia akan membawa keuntungan.”

Akhirnya peniaga itu berkata: “Kalau begitu tuliskanlah semua apa yang engkau sebutkan ini. “Orang tua itu berkata: “Kalau ditakdirkan sesuatu itu maka adalah ia.” Menurut mereka yang datang menegur itu adalah Nabi Khidir.

Diriwayatkan oleh Abu Amr, dari Yahya bin Abi Talib, dari Ali bin Ashim, dari Abdullah, berkata: “Pernah Ibnu Umar duduk-duduk di satu tempat, sedangkan seorang lelaki (tidak berapa jauh dari tempatnya) sudah mula membuka jualannya. Peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan jualannya. Tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki dan berkata: “Takutlah kepada Allah dan jangan berbohong. Hendaklah engkau berkata jujur walaupun berat melakukannya dan jauhilah berdusta walaupun ia membawa manfaat. Dan jangan tambah-tambah dari cerita orang lain (apa yang ada).”

Ibnu Umar yang mendengar teguran orang tua itu berkata kepada peniaga itu: “Pergi ikuti dia dan suruh supaya dia tulis apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengikutinya dan meminta supaya menuliskan apa yang disebutkannya tadi tetapi orang tua itu hanya berkata: “Kalau sesuatu itu sudah ditentukan Allah, maka adalah ia.” Kemudian orang tua itu pun tiba-tiba sahaja menghilang. Peniaga itu kembali menjumpai Ibnu Umar serta menceritakan apa jawapan orang tua itu. Ibnu Umar berkata: “Yang datang itu adalah Nabi Khidir.”

Tetapi kata Ibnu Al-Jauzi hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Ahsim daif. Bahkan katanya Ali bin Ashim itu lemah ingatannya.

Ada juga riwayat yang hampir sama dengan ini menyebutkan: “Ada dua orang lelaki yang berjualan tidak berapa jauh dari Abdullah bin Umar. Salah seorang dari peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan barang-barang jualannya. Ketika ghairah bercerita mempromosikan jualannya, tiba-tiba datang seorang lelaki kemudian berkata kepada peniaga yang banyak bersumpah itu: “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan jangan banyak bersumpah. Sesungguhnya tidak akan bertambah rezekimu jika engkau banyak bersumpah. Dan sebaliknya, tidak akan mengurangkan kepada rezekimu jika engkau tidak bersumpah. Oleh itu bercakaplah yang wajar-wajar sahaja.”
Peniaga itu menjawab: “Inilah yang saya anggap wajar.”

Lelaki tua itu mengulang nasihatnya lagi. Dan ketika dia sudah mahu pergi, dia berkata lagi: “Ketahuilah bahawa termasuk daripada iman ialah mengutamakan kejujuran walaupun berat melaksanakannya dan meninggalkan pembohongan walaupun dianggap membawa keuntungan.”
Setelah memberi nasihat atau teguran, lelaki itu pun pergi. Ibnu Umar berkata kepada peniaga itu: “Kejar dia dan minta supaya ditulisnya apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengejarnya dan berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, tuliskanlah apa yang engkau sebutkan tadi supaya tuan dirahmati Allah.” Lelaki itu tidak ada menulisnya tetapi mengulangi apa yang disebutkannya tadi. Jadi, menurut Ibnu Umar yang datang itu adalah Nabi Khidir.

Kisah Khidir dan Abu Mahjan
Diriwayatkan oleh Saif dalam kitab Al-Futuh, bahawa satu jemaah berada bersama Saad bin Abi Waqqas, maka mereka melihat Abu Mahjan berperang, maka yang meriwayatkan ini pun menceritakan kisah Abu Mahjan secara panjang lebar. Dari kesimpulan cerita-cerita mereka mengatakan bahawa Nabi Khidir masih hidup pada zaman itu.

Berkata Abu Abdullah bin Battah: “Bercerita kepada kami Syuaib bin Ahmad, yang didengarnya dari ayahnya, dari Ibrahim, bin Abdul Hamid, dari Ghalib bin Abdullah, dari Hasan Basri berkata: “Seorang lelaki berfahaman Ahli Sunnah Waljamaah berlainan pendapat dan berhujah dengan seorang lelaki bukan Ahli Sunnah. Mereka berdebat mengkaji masalah qadar. Mereka berdebat di tengah-tengah perjalanan. Masing-masing mereka mempertahankan pendapatnya dan berbantah dengan suara yang kuat tetapi akhirnya sepakat siapa yang duluan datang ke tempat mereka berhujah itu akan diangkat sebagai pemutus di antara mereka.
Tidak lama kemudian, muncullah seorang lelaki memikul bungkusan sedangkan rambut dan pakaiannya sudah berabu dan jalannya menunjukkan seolah-olah sudah kepenatan. Mereka berkata kepada lelaki itu: “Tadi kami berdebat tentang qadar dan masing-masing di antara kami memberikan hujah dan dalilnya tetapi tidak tahu siapa di antara kami yang benar. Kami sudah sama-sama setuju bahawa siapa orang yang mula-mula datang ke tempat ini akan kami angkat sebagai hakim. Maka sekarang kami minta tolong kepada tuan untuk menghakimi kami.”

Lelaki itu meletakkan bungkusannya kemudian duduk. Setelah berehat sebentar dan nafasnya sudah mulai tenang, dia berkata: “Kalau begitu duduklah kamu disini.” Kemudian lelaki itu menghakimi mereka secara bijaksana.” Menurut Hasan Basri lelaki yang mengadili mereka itu adalah Nabi Khidir.


Nabi Khidir memberi pengajaran
Diriwayatkan oleh Hammad bin Umar, dari A-Sara bin Khalid, dari Jakfar bin Muhammad, dari ayahnya, dari datuknya Ali bin Husain, katanya pembantu mereka pergi berlayar menaiki kapal. Ketika dia mahu mendarat tiba-tiba dia melihat di atas pantai duduk seorang lelaki yang sedang menerima hidangan makanan dari langit. Makanan itu diletakkan di hadapannya kemudian dia pun memakannya. Setelah dia kenyang, makanan itu diangkat semula ke langit. Pembantu yang merasa hairan itu memberanikan dirinya mendekati orang itu sambil berkata kepadanya: “Hamba Allah yang manakah engkau ini?” Lelaki itu berkata: “Aku adalah Khidir yang barangkali engkau sudah pernah mendengar nama itu.” Pembantu itu bertanya lagi: “Dengan (amalan) apakah didatangkan kepadamu makanan dan minuman ini?”

Lelaki itu menjawab: “Dengan nama Allah yang Maha Agung.”
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mas’ar, dari Maan bin Abdul Rahman, dari Aun bin Abdullah, dari Utbah, dari Ibnu Mas’ud, mengatakan: “Ada seorang lelaki di Mesir sedang bercucuk tanam di kebunnya. Ketika itu dia sedang gelisah dan dia tunduk mengerjakan ladangnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba di melihat di hadapannya ada seorang lelaki sedang berdiri memperhatikan apa yang dilakukannya dan memandangi wajahnya. Lelaki itu berkata kepadanya: “Kuperhatikan dari tadi engkau murung dan gelisah, mengapa begitu?” Lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Tidak ada apa-apa.”

Kemudian lelaki yang datang tadi berkata: “Dunia adalah kesenangan yang sedikit dan masanya amat terhad, dan kesenangan itu dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Sedangkan akhirat kesenangan yang hakiki dan abadi.”

Mendengar yang demikian lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Sebenarnya saya sedih memikirkan keadaan kaum muslimin sekarang ini. Orang yang datang itu berkata: “Allah SWT akan membebaskanmu dari kesusahan kerana engkau ambil-berat terhadap nasib kaum Muslimin. Cuba tanya siapakah orangnya yang meminta kepada Allah kemudian Allah tidak memenuhi permintaannya, siapakah orang yang doanya tidak terkabul? Siapakah yang berserah kepada Allah lalu Allah tidak melindunginya?” Mus’ir berkata: “Menurut mereka orang yang memberi pengajaran itu adalah Khidir.”

Nabi Khidir datang ke Baitul Haram
Berkata Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah: “Bercerita kepada kami Ubaidullah bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Mansur, dari Ahmad bin Jamil, katanya berkata Sufyan bin Ainah: 

“Pada waktu saya tawaf di Baitullah, tiba-tiba saya melihat seorang yang sedang memimpin satu kumpulan manusia mengerjakan tawaf. Saya bersama orang yang berdiri di sekelilingku memperhatikan lelaki itu. Ada di antara mereka yang berkata: “Lelaki yang memimpin kumpulan yang tawaf itu nampaknya seorang yang ikhlas dan berilmu.” Kami amati dia bahkan kami ikuti ke mana dia pergi. Lelaki itu pergi ke maqam kemudian mengerjakan solat di situ. Selesai solat dia menadahkan kedua tangannya dan berdoa. Setelah itu dia melihat ke arah kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?”

Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Aku adalah raja. Kamu mendakwa diri kamu sebagai raja.” Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah kiblat, menadahkan tangannya sebagai tanda berdoa kemudian berpaling kepada kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah yang hidup dan tidak akan mati untuk selamanya. Kamu mendakwa diri kamu hidup dan tidak akan mati.”

Setelah itu dia menghadap ke arah kiblat dan mendoa. Selesai berdoa berpaling kepada kami sambil berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu akan ada ia. Ada di antara kamu yang mengaku apabila menginginkan sesuatu akan ada.”

Kata Ibnu Ainah lagi: “Kemudian dia pun pergi dan kami tidak melihatnya lagi. Setelah itu saya berjumpa dengan Sufyan As-Tsauri dan dia berkata: “Barangkali lelaki itu adalah Khidir atau wali Allah yang lain.”
Ada diceritakan ketika Hasan Basri berceramah di hadapan jemaahnya, tiba-tiba datang seseorang yang matanya kehijau-hijauan. Melihat yang demikian Hasan Basri bertanya kepadanya: “Apakah memang begini engkau dilahirkan oleh ibumu atau ini sebagai tanda?” Orang yang baru datang itu berkata: “Apakah sememangnya engkau kenal kepadaku wahai Abu Said?” Hasan Basri berkata: “Siapa engkau sebenarnya?” Lelaki itu memperkenalkan dirinya sehingga jelas bagi semua jemaah yang ada di tempat itu. Hasan Basri berkata lagi: “Tolong ceritakan bagaimana kisahmu.”

Lelaki itu berkata: “Pernah pada suatu hari dahulu aku mengangkut semua barang-barangku ke dalam kapal. Aku pun berlayar menuju Cina. Ketika berlayar mengharungi lautan yang dalam, tiba-tiba angin bertiup kencang. Terjadi ombak yang begitu hebat dan kapal yang saya naiki pun terbalik. Rupanya ajalku belum tiba, aku dibawa oleh ombak ke pantai. Aku terdampar di satu pulau yang tidak didiami oleh manusia. Empat bulan lamanya aku keseorangan di pulau itu. Makanan tidak ada kecuali daun-daunan dan batang kayu yang lapuk. Bahkan minuman pun tidak ada kecuali air mata yang sentiasa mengalir kerana sedihnya.
Tidak terdaya lagi menahankan hidup seperti itu sehingga aku sudah bermaksud berenang menyeberangi lautan yang luas itu. Ketika berjalan mendekati laut yang ombaknya melambai-lambai itu, tiba-tiba di hadapanku sudah ada istana yang pintunya seperti perak. Kubuka pintunya rupanya di dalam ada bilik-bilik dan beberapa ruang tamu yang lengkap dengan perhiasan. Di dalam istana itu juga ada beberapa buah peti yang dihiasi dengan permata. Aku buka salah satu peti itu. Aku dekati peti itu kemudian terasalah semerbak yang cukup harum. Aku buka perlahan-lahan, rupanya di dalam ada mayat yang masih segar seperti orang tidur. Aku tutup semula peti itu kemudian aku keluar dari istana itu.

Sebaik sahaja turun dari tangga istana, aku berjumpa dengan dua orang pemuda kacak dan nampak ramah.
Mereka bertanya siapa aku dan aku pun memberikan butir-butir peribadiku. Mereka berkata: “Pergilah ke pohon sana. Di bawah pohon itu ada taman yang indah. Dan di situ nanti ada orang tua yang sedang mengerjakan solat. Dia itu baik orangnya. Ceritakan dirimu dan keadaanmu kepadanya kemudian nanti dia akan menunjukkan jalan kepadamu.”

Aku pun pergi ke pohon yang mereka tunjukkan itu. Memang benar, di bawahnya ada seorang lelaki tua sedang duduk berzikir. Aku ucapkan salam kepadanya kemudian dia pun menjawabnya. Dia tanya siapa diriku kemudian aku pun menerangkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam sejenak merenungkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya.

Lelaki itu terdiam sejenak merenungkan perjalananku dan macam-macam yang aku lihat sebelumnya. Dia tanya lagi di mana kampungku kemudian aku ceritakan. Kemudian lelaki itu berkata: “Kalau begitu duduklah dahulu.”

Aku duduk sahaja memperhatikan lelaki itu. Tidak lama kemudian datanglah tumpukan awan mendekati beliau.

Anehnya awan itu sanggup berkata seperti manusia dengan ucapan: “Assalamu Alaikum ya wali Allah.” Beliau menjawab salam awan itu kemudian awan itu pun berhenti di hadapan beliau.
Beliau bertanya kepada awan itu: “Ke mana engkau mahu pergi?” Awan itu menjawab: “Aku mahu pergi ke kampung ini dan kampung ini.” Kemudian awan itu pun pergi seperti ditiup angin. Datang lagi awan-awan yang lain dan kesemuanya berhenti di depan beliau. Beliau bertanya lagi kepada awan yang datang kemudian:

“Ke mana engkau mau pergi?” Awan itu menjawab: “Saya mahu pergi ke Basrah.” Beliau berkata: “Kalau begitu turun dahulu.” Awan itu turun dan berhenti di hadapan beliau. Beliau berkata: “Bawa orang ini ke depan rumahnya dengan selamat.”

Nampaknya awan itu sudah siap untuk mengangkut saya. Sebelum berangkat, saya bertanya kepada orang tua itu: “Demi Tuhan yang telah memuliakan engkau, tolong ceritakan kepadaku apa itu istana tadi, siapa dua orang pemuda itu dan siapa engkau.”

Orang tua itu berkata: “Istana yang engkau lihat tadi adalah tempat para syuhada yang gugur di laut.

Orang-orang yang mati syahid di laut telah diangkut oleh malaikat. Mayat para syuhada itu mereka masukkan ke dalam peti yang dihiasi dengan emas dan permata, disembur dengan wangi-wangian dan mereka masukkan (simpan) di dalam istana seperti yang engkau lihat tadi. Dua orang pemuda tampan yang engkau jumpai tadi adalah malaikat yang disuruh Allah untuk menguruskan mereka pada waktu pagi dan petang. Sedangkan aku ini adalah Khidir. Aku dahulu ada memohon kepada Allah supaya mengumpulkan atau menggabungkan aku dengan umat nabi kamu Muhammad SAW.”

Lelaki yang dibawa awan dan datang menjumpai Hasan Basri itu berkata lagi: “Sewaktu terbang bersama awan, aku terperanjat kerana melihat sesuatu yang mengejutkan. Dan itulah sebabnya mataku seperti yang engkau lihat ini.”

Mendengar yang demikian Hasan Basri berkata: “Sungguh mengagumkan pengalaman hidupmu.”
Menurut satu riwayat, Raja Sulaiman bin Abdul Malik telah menyuruh menterinya menangkap seorang lelaki yang sangat dikehendaki untuk dibunuh. Sebaik sahaja mengetahui perintah raja itu, lelaki yang dicari tadi segera melarikan diri. Lelaki itu lari ke kampung lain. Di kampung itu dia mendengar berita hangat bahawa orang bernama ini disuruh tangkap untuk dibunuh. Dia semakin ketakutan kemudian lari lagi ke kampung lain. Di kampung itu pun rupanya sudah gempar berita itu yang menyebabkan dia lari lagi ke kampung lain. Begitulah yang dia dengar setiap pergi ke satu kampung. Akhirnya dia terfikir untuk lari ke negeri di luar kekuasaan Sulaiman bin Abdul Malik.

Sekarang dia sudah sampai di satu padang pasir yang amat luas, yakni di tempat itu tidak ada pokok yang tumbuh, tidak ada air dan makanan apapun, bahkan nampaknya tempat itu adalah tanah yang tidak pernah diinjak oleh manusia.

Di situ dia melihat seorang lelaki tengah mengerjakan solat. Dia pandang di sekeliling orang yang solat itu, ternyata tidak ada tunggangan, tidak ada bekalan dan sebagainya. Dia begitu hairan melihat lelaki itu mengapa berada seorang diri di tempat itu. Dia ingin mendekati lelaki itu tetapi tidak jadi kerana ketakutan. Hatinya bertanya: “Ini manusia atau jin ini.” Dia beranikan dirinya untuk mendekati lelaki itu. Kemudian lelaki itu memandang ke arahnya dan berkata: “Barangkali Sulaiman bin Abdul Malik yang membuatmu ketakutan sehingga tersesat ke tempat ini.” Dia berkata: “Betul tuan.” Lelaki itu berkata: “Mengapa tidak engkau buat pendinding dirimu?” Dia bertanya: “Pendinding apa maksudnya?” Lelaki itu berkata: “Bacalah zikir seperti ini (yang maksudnya):
 

Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Esa yang tidak ada Tuhan selain-Nya.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha terdahulu dan tidak ada yang menjadikan-Nya.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Kekal dan tidak akan binasa.
Maha Suci (Tuhan) Yang Dia setiap hari dalam kesibukan.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.
Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan apa yang dilihat dan tidak kelihatan.
Maha Suci (Tuhan) yang mengajari segala sesuatu tanpa pengajaran secara langsung.

Dalam zikir di atas ada dinyatakan bahawa Allah setiap hari atau waktu berada dalam kesibukan. Ini sebenarnya ada ditemui di dalam Quran, iaitu ayat yang mengatakan: Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan.
(Al-Rahman: 29)

Maksudnya Allah SWT sentiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki kepada semua makhluk dan sebagainya. Orang itu berkata: “Bacalah zikir ini.” Lelaki itu berkata: “Maka saya pun menghafal zikir itu dan membacanya. Tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang dan tidak nampak lagi. Tetapi berkat amalan itu, perasaan takut sudah hilang dari diriku. Aku sudah bermaksud pulang ke kampungku menjumpai keluargaku, bahkan aku ingin pergi menjumpai Sulaiman bin Abdul Malik.
Pada suatu hari, yang mana rakyat jelata dibolehkan berjumpa dengannya, saya pun masuk ke istananya. Sebaik sahaja saya masuk ke ruang tamunya, dia memandangiku seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Dia mendekati aku kemudian berkata: “Engkau telah menyihir aku.” Saya jawab dengan tenang: “Wahai Amirul Mukminin, saya tidak ada mengguna-guna tuan. Saya tidak pernah belajar ilmu sihir dan saya tidak ada menyihir tuan.”

Sulaiman bin Abdul Malik menerangkan apa yang ada dalam hatinya secara jujur: “Dulu aku begitu marah melihat engkau. Aku sudah bertekad akan membunuh engkau. Rasanya kerajaanku ini tidak sempurna kalau tidak membunuh engkau. Tetapi setelah melihat wajahmu tadi, aku begitu sayang kepada engkau. Sekarang ceritakan secara jujur apa yang engkau amalkan itu. Dia pun menyebutkan zikir tadi. Mendengar yang demikian Sulaiman bin Abdul Malik berkata: “Demi Allah Khidirlah yang mengajarkan amalan itu kepadamu.” Akhirnya raja memaafkan segala kesalahannya dan menyayanginya.

Amalan yang paling disukai Allah

Dari Raja’, beliau berkata: “Pernah pada suatu hari ketika saya berada di samping Sulaiman bin Abdul Malik, tiba-tiba datang seorang lelaki tampan. Lelaki itu memberi salam kemudian kami jawab. Kemudian dia berkata: “Wahai Raja’, sesungguhnya telah diuji keimananmu ketika engkau dekat dengan lelaki ini (Raja Sulaiman). Kalau engkau dekat dengan dia, maka engkau akan celaka. Wahai Raja’, engkau mesti sentiasa berbuat baik dan menolong orang-orang lemah. Ketahuilah wahai Raja’, sesiapa yang mempunyai kedudukan di kerajaan sultan, lalu dia mengangkat hajat orang-orang lemah yang mereka tidak sanggup menyampaikannya, maka orang yang mengangkat atau menyampaikan itu akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan kedua tumitnya tetap ketika berhisab. Ketahuilah wahai Raja’ bahawa sesiapa yang menunaikan hajat saudaranya sesama muslim maka Allah akan menunaikan hajatnya. Dan ketahuilah wahai 

Raja’ bahawa amalan yang paling disukai Allah ialah amalan menyenangkan hati orang mukmin.”

Setelah memberikan pengajaran yang bernas itu, tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang. Ramai yang berpendapat bahawa yang datang memberikan pengajaran itu ialah Nabi Khidir.

Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair adalah seorang yang rajin beribadat. Dia selalu berpuasa dan mengerjakan solat tidak kurang dari seribu rakaat sehari semalam. Dia ada berkata: “Pernah ketika aku berada di dalam masjid sedangkan orang semuanya sudah pulang, ke rumah masing-masing, tiba-tiba datang seorang lelaki yang tidak saya kenal. Lelaki itu menyandarkan badannya ke dinding masjid sambil berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahawa aku berpuasa sejak kelmarin. Sampai sekarang pun aku masih berpuasa. Aku tidak mendapatkan makanan dan minuman dan aku menginginkan al-Tharid (nama makanan). Berikanlah kepadaku ya Allah makanan dari sisi Engkau.”

“Tiba-tiba saya melihat seorang pelayan datang membawa hidangan. Pelayan itu nampaknya tidak seperti orang biasa. Orangnya tampan, bersih dan pakaiannya kemas. Dia berjalan ke arah lelaki yang berdoa tadi sambil meletakkan hidangan itu di hadapannya. Lelaki itu pun membetulkan duduknya menghadap hidangan itu. Sebelum mencicipi makanan itu dia memandang saya dan mengajak saya supaya ikut makan bersamanya. Hatiku berkata: “Syukur dia mengajak saya makan bersama.” Ketika itu saya yakin makanan itu didatangkan dari syurga sehingga saya pun ingin betul mencuba. Baru sedikit saya cuba tahulah saya bahawa makanan itu bukan makanan yang biasa di dunia ini.

Sebenarnya saya merasa segan dan malu kepada orang yang tidak saya kenal itu. Belum lagi kenyang rasa perutku saya sudah mengucapkan terima kasih dan pergi ke tempatku semula tadi. Tetapi saya masih terus memperhatikan lelaki itu. Setelah dia selesai makan, datang lagi pelayan tadi mengambil hidangan itu. Dia pergi lagi ke arah tempat datang tadi. Lelaki yang baru selesai makan itu pun sudah berdiri dan nampak pergi. Aku kejar dia kerana ingin tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi malangnya dia tiba-tiba saja menghilang dan saya tidak tahu ke mana perginya. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Khidir.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah, berkata: “Telah bercerita kepadaku ayahku bahawa pengurus sebuah masjid berkata kepada Walid bin Abdul Malik: “Sesungguhnya Nabi Khidir sembahyang setiap malam di masjid.”
Dari Daud bin Yahya, katanya bercerita seorang lelaki yang selalu berada di Baitul Maqdis: “Pada waktu saya berjalan di salah satu lembah di Jordan, saya melihat di lembah bukit itu ada orang yang sedang mengerjakan solat. Saya lihat di atasnya ada awan yang melindunginya daripada panas matahari. Menurut tekaanku lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Saya dekati dia kemudian kuucapkan salam kepadanya. Dia berpaling kepadaku sambil menjawab salamku. Aku tanya: “Siapa anda sebenarnya wahai orang yang dirahmati Allah?” Dia diam sahaja dan tidak menjawab soalanku. Kutanya lagi seperti soalan pertama kemudian dia menjawab: “Aku adalah Ilyas An-Nabi.”

Tiba-tiba sahaja merinding bulu romaku. Aku gementar, dan yang paling kutakutkan dia menghilang sebelum saya sempat menanyakan itu dan ini. Aku berkata kepadanya: “Tolong doakan supaya Allah menghilangkan penyakitku ini.” Dia pun berdoa. Tiba-tiba penyakitku terasa sudah sembuh.

Aku tanya lagi: “Kepada siapa tuan diutus?” Beliau menjawab: “Aku diutus kepada penduduk Baklabakka.”

Kutanya lagi: “Apakah sekarang ini tuan masih ada menerima wahyu?” Beliau menjawab: “Bukankah sudah diutus Muhammad sebagai nabi penutup? Aku tidak ada menerima wahyu lagi.”
Katanya lagi: “Kalau begitu berapa lagi nabi yang masih hidup sekarang ini?” Beliau menjawab: “Sekarang ada empat orang lagi nabi yang masih hidup, iaitu saya sendiri (Ilyas), Khidir di bumi (darat), dan Nabi Idris bersama nabi Isa di langit.”

Kutanya lagi: “Apakah tuan pernah berjumpa dengan Nabi Khidir?” Beliau menjawab” “Ya, setiap tahun kami berjumpa di padang Arafah, yakni pada musim haji.”
Kutanya: “Apa yang kamu lakukan jika berjumpa di sana?” Beliau menjawab: “Aku ambil rambutnya kemudian dia pun mengambil (mencukur rambutku).”
Kutanya lagi: “Berapa orang lagi Al-Abdal (Wali Allah yang lain)?” Beliau menjawab: “Ada 60 orang lelaki. 50 orang berada di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 2 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan 7 orang di pelbagai penjuru dunia. Merekalah yang mengatur hujan dan mereka yang menolong untuk mengalahkan musuh Allah, bahkan di tangan mereka berdirinya dunia ini, dia matikan mereka semua supaya dunia ini pun hancur.” Ini menurut satu pendapat sangat tidak sahih.

Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna

Berkata Abul Hasan bin Al-Munadi: “Bercerita kepada kami Ahmad bin Mulaib, dari Yahya bin Said, dari Abu Jakfar Al-Kufi, dari Abu Umar Al-Nasibiy, berkata: “Aku pergi mencari Maslamah bin Masqalah di Syam. Ramai yang mengatakan Maslamah termasuk wali Allah juga. Setelah berusaha mencarinya, saya menjumpainya di salah satu lembah di Jordan.

Beliau berkata kepadaku: “Mahukah engkau kuceritakan kepadamu tentang apa yang kulihat tadi di lembah bukit ini?” Kujawab: “Tentu aku ingin mendengarnya.” Beliau berkata: “Ketika saya datang tadi ke lembah ini, saya melihat seorang syekh yang sedang mengerjakan solat di bawah pokok itu. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Aku berjalan mendekatinya kemudian memberi salam kepadanya sekalipun dia sedang mengerjakan solat. Saya lihat dia rukuk, kemudian iktidal, dan kemudian sujud.Selesai solat dia memandang ke arah suaraku datang kemudian menjawab salamku setelah melihat aku berdiri di situ.
Aku tanya dia: “Siapakah engkau wahai orang yang dirahmati Allah.” Dia menjawab : “Aku adalah Ilyas Al-Nabi.”

Aku begitu gugup mendengar kata-katanya itu.Dia datang mendekati aku. Dia letakkan tangannya di dadaku sehingga aku merasakan kesejukan tangannya.

Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah, doakanlah supaya Allah menghilangkan penyakitku ini.” Kemudian beliau pun berdoa dengan menggunakan nama Allah, lima di antaranya dalam bahasa Arab dan tiga lagi dalam bahasa Siryani. Beliau membaca: “Ya Wahid, Ya Ahad, Ya Somad, Ya Fardun, Ya Witrun. Beliau menyebut tiga potong perkataan lagi yang saya sendiri tidak tahu maknanya. Kemudian beliau menarik tanganku sambil mendudukkan aku.Ketika itu rasanya penyakitku sudah hilang.
Aku bertanya kepadanya: “Wahai nabi Allah, Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (saya sebutkan Mirwan bin Muhammad), yang ketika itu menahan beberapa orang ulama. Beliau berkata: “Bagaimana hubungan kamu ?” Aku menjawab “Wahai nabi Allah kalau aku berjumpa dengannya dia berpaling. Dia tidak memberi sebarang komen.

Aku bertanya lagi: “Wahai nabi Allah,apakah sekarang ini masih ada di dunia ini Al-Abdal. (wali-wali Allah)?Beliau menjawab:”Ada” Mereka semua ada sebanyak 60 orang. 50 orang di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 3 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan yang lainnya di daerah Arab lainnya.”
Aku bertanya lagi:”Wahai nabi Allah, Apakah tuan ada berjumpa dengan nabi Khidir?” Beliau menjawab “Ya setiap musim haji kami berjumpa di Mina.” Aku bertanya: Apa yang kamu lakukan jika berjumpa?” Beliau menjawab: “Aku mengambil rambutnya dan dia pun mengambil rambutku.”

Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah. sebenarnya saya ini adalah orang yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai isteri dan anak. Kalau tuan bersetuju biarlah saya ikut bersama tuan ke mana sahaja tuan pergi.” Beliau menjawab: Engkau tidak sanggup berteman denganku.”

Ketika bercerita dengan beliau tiba-tiba aku melihat satu hidangan makanan keluar dari akar pohon itu kemudian diletakkan di hadapan beliau. Sementara orang yang mengangkatnya tidak kelihatan. Dalam hidangan itu ada tiga ketul roti. Beliau sudah menghulurkan tangannya untuk makan makanan itu. Tetapi tiba-tiba beliau belum jadi memakannya dan beliau mengajak aku supaya sama-sama makan.

Saya duduk di sebelah beliau, kemudian beliau berkata kepadaku: “Mulailah dengan Bismillah dan ambilah dari yang terdekat kepadamu “Kami pun memakannya bersama-sama. Selepas makan saya lihat jelas dulang itu diangkat lagi tetapi tidak kelihatan orang yang mengangkatnya. Kemudian didatangkan lagi kepada beliau minuman tetapi tidak kelihatan orang yang membawanya. Beliau membagi dua minuman itu, separuh beliau minum dan separuh lagi beliau serahkan kepadaku. Saya cuba minuman itu, oh rasanya cukup lazat. Minuman itu lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Selesai minum saya letakkan tempatnya. Tiba-tiba saya lihat terangkat lagi tetapi tidak tahu siapa mengangkatnya.

Kemudian beliau memandang ke bawah (tempat yang lebih rendah lagi), rupanya di situ sudah ada binatang menunggu yang lengkap dengan tempat duduknya. Binatang itu lebih besar dari keldai dan tidak sampai sebesar baghal. Beliau berjalan ke arah tunggangan itu. Aku kejar beliau dan aku minta supaya ikut bersamanya. Tetapi beliau berkata: “Bukankah sudah aku katakan bahawa engkau tidak sanggup mengikuti perjalananku?” Saya merasa kecewa dan hanya mampu berkata: “ Kalau begitu bagaimana caranya supaya saya berjumpa lagi dengan tuan?” Beliau menjawab: “ Kalau betul-betul ingin berjumpa denganku, kita akan berjumpa lagi nanti.” Tambah beliau lagi: “Semoga engkau dapat menjumpai aku lagi nanti pada bulan Ramadhan di Baitul Maqdis dalam keadaan iktikaf.” Beliau pergi ke bawah pohon dan aku ikuti dari belakang tetapi tiba-tiba beliau menghilang.”

Dipetik Dari Buku: Kisah Nabi Khidir a.s.
Pengarang: Al-Hafiz Ibnu Hajar al Asqalaniy.
_________________________________________________________________________________
Kisah Nabi Khidr Dan Iskandar dzulkarnain
DI SEBALIK KISAH RAJA ISKANDAR DZUL QARNAIN
MASUK KE TEMPAT GELAP
Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi*, Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit”, malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya”.

Kemudian raja berkata, “Alanglah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah”.
Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang bererti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan”.

Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”. mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap”.
Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabranya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam As, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap”.

“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja. Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.

Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?”. Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tenteranya yang seramai 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir As, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri.
Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.

Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja.”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya.” Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”

Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ” Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”. Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?”. “Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”
Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir As.

Di saat mereka berjalan, maka Allah memberi wahyu keapda Nabi Khidlir As,” Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu”.

Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian.”

Kemudian beliau berjalan menuju kesebelah kanan jurang, maka dapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir As turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air hidup) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air hidup tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu.

Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir As. tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.
(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir As. adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga.”

Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jamberut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal.

Diriwayatkan oleh Ats-tsa ‘ Labi dari Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.
1. Cerita ini dikutib dari kitab “Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168
Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang

11. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis
Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri
Penerbit Darul Fikri Bairut
Halaman 257 – 258.

Allah Pun Merayakan Maulud Nabi-Nabi

http://salafytobat.wordpress.com/2009/03/04/sunnah-maulid-nabi-allah-pun-merayakan-maulid-nabi-nabi/

Sunnah maulid Nabi : Allah pun merayakan Maulid Nabi-nabi


Bahkan Ibnu Taymiyah pun dukung “Maulid Nabi”

Puji syukur Alhamdulillah hirobil ‘alamin marilah kita panjatkan kehadlirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya.
Sholawat serta salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafa’at-nya di Hari Kiamat. Amin.
Amalan umat islam ahlusunnah wal jamaah pada saat “maulid”
- Perintah mengingati Hari – Hari Allah (12 rabiul awwal adalah hari lahir, hijrah (nabi sampai di madinah) dan wafat nabi Muhammad SAW).
walaqad arsalnaa muusaa bi-aayaatinaa an akhrij qawmaka mina alzhzhulumaati ilaa alnnuuri wadzakkirhum bi-ayyaami allaahi inna fii dzaalika laaayaatin likulli shabbaarin syakuurin
[14:5] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah781. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (QS Ibrahim 5)


(Hari/peristiwa dimana Allah memberikan Nikmat kepada Orang-orang yang beriman dan Hari/peristiwa dimana Allah menimpakan azab bagi orang orang kafir)
Ketahuilah bahwa maulid /kelahian Nabi adalah Nikmat terbesar bagi semua Makhluq!!
- membaca sirah/kisah Nabi Muhammad SAW (Dalam bentuk syair maupun bayan/ceramah)

Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman
wakullan naqushshu ‘alayka min anbaa-i alrrusuli maa nutsabbitu bihi fu-aadaka wajaa-aka fii haadzihi alhaqqu wamaw’izhatun wadzikraa lilmu/miniina
[11:120] Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS Hud 120)
- Membaca shalawat.
Bahkan Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW :

[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)
Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengingat tiga peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah SAW, yakni kelahiran, Hijrah dan wafatnya Muhammad SAW.


Mengenai Maulid Lagi

Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:-
Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”.
Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.
Kata-kata ulama ini juga boleh didapati didalam kitab an-Nafahatul Miskiyyah fi fadhilathi qiraati maulidi khairil bariyyah karangan asy-Shaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi dan juga terjemahannya yang bertajuk Hembusan Kasturi oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi.
Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua.
1) Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz as-Suyuthi:

Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?

Dan jawapannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, iaitu mengadakan perhimpunan orangramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya kerana padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.

2) Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”

Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”

 
Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai: “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”
 
3) Syeikhul Islam wa Imamussyurraah al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani: Berkata al-Hafiz as-Suyuthi dalam kitab yang disebutkan tadi: Syeikhul Islam Hafizul ‘Asr Abulfadhl Ibn Hajar telah ditanya tentang amal maulid, dan telah dijawab begini: “Asal amal maulid (mengikut cara yang dilakukan pada zaman ini) adalah bid’ah yang tidak dinaqalkan dari salafussoleh dari 3 kurun (yang awal), walaubagaimanapun ia mengandungi kebaikan serta sebaliknya. Maka sesiapa yang melakukan padanya kebaikan dan menjauhi yang buruk, ia merupakan bid’ah yang hasanah.

Telah jelas bagiku pengeluaran hukum ini dari asal yang tsabit iaitu apa yang tsabit dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan shahih Muslim) bahawa Nabi صلى الله عليه وسلم ketika tiba di Madinah mendapati orang Yahudi berpuasa Asyura’, lalu baginda bertanya kepada mereka (sebabnya). Mereka menjawab: Ia merupakan hari ditenggelamkan Allah Fir’aun dan diselamatkan Musa, maka kami berpuasa kerana bersyukur kepada Allah. Maka diambil pengajaran darinya melakukan kesyukuran kepada Allah atas apa yang Dia kurniakan pada hari tertentu, samada cucuran nikmat atau mengangkat kesusahan.”

Seterusnya beliau berkata lagi: Dan apakah nikmat yang lebih agung dari nikmat diutuskan Nabi ini صلى الله عليه وسلم, Nabi Yang Membawa Rahmat, pada hari tersebut? Dan ini adalah asal kepada amalan tersebut. Manakala apa yang dilakukan padanya, maka seharusnya berlegar pada apa yang difahami sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala samada tilawah, memberi makan, sedekah, membacakan puji-pujian kepada Nabi, penggerak hati atau apa sahaja bentuk kebaikan dan amal untuk akhirat.”

Inilah istinbat-istinbat yang dikatakan oleh mereka yang menentang sambutan maulid (anti-maulid) sebagai istidlal yang bathil serta qias yang fasid, lalu mereka mengingkarinya. Cukuplah bagi kita memerhatikan siapakah yang mengingkari dan siapa pula yang mereka ingkari!!!

PERINGATAN MAULID NABI SAW

ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).
 
Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.

Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw. Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
 
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162).

dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa. Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?,

dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa. Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
 
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai  Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.

Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).

Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :
“hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH
ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG  ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun,
dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus
mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid” .

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah
demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy
dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya” .

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyya h juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad
yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
dg maulidnya addiba’i

18. Imam ibn hajar al haitsami dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari’ dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

27. Syihabuddin Al Halwani dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid,
maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar :
“Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang,  namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan. (Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap duduk dg santai..

Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri
untuk memuliakan beliau saw. Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau
saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,

Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin  aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.  contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya  berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.

Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’ anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya
sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.